broccolli

an_anyrn


γραφής είναι η ζωή μου

I want to touch your heart


[sticky post]Introduction
Takayoshi
an_anyrn


Know me moreCollapse )

Top Secret
Misaki 19th birthday
an_anyrn
        cover
            TITLE : Top Secret
        PAIRING : RyoMi’s Couple
        CAST :

  1. Yamada Ryosuke as Ryo

  2. Author as Sachi Fumi(OC)

  3. Yabu Kota as Yabu Kota

  4. Arioka Daiki as Arioka Daiki

  5. Yaotome Hikaru as Yaotome Hikaru

  6. Takaki Yuya as Takaki

  7. Inoo Kei as Inoo

  8. Chinen Yuri as Chinen Yuri

  9. Okamoto Keito as Keito

  10. Nakajima Yuto as Yuto

  11. Morimoto Ryutaro as Ryutaro

GENRE : Thriller, Crime, Action, Romance, Angst
RATING : PG-15
LENGTH : Oneshoot
LANGUAGE : Indonesia
AUTHOR : Amaisora Lucifa
-TWITTER : @pramutya
-FB : http://www.facebook.com/amaisora
-SITE : http://milkylatte.tumblr.com
-PHONE NUMBER : 085642151785
-ADDRESS : Masaran Kulon RT07/2B Jati Masaran Sragen 57282
-ICHIBAN : Yamada Ryosuke
-REASON OF JOINING THE PROJECT : I want to take revenge because I can’t join the project last year! Yatta!! I want to give birthday present for my lovely ichiban, Yamada Ryosuke through this fanfiction and make many people enjoy reading my fanfiction and fall for HEYSAYJUMP. But don’t fall for Yamada Ryosuke, he is mine :P
DICLAIMER : Inspired of ‘The Sweet Bodyguard’ by Marchia
SUMMARY : Mereka terpisah selama tiga-belas-tahun. Pertemuan pertama justru memisahkan mereka kembali. Janji masih sekedar janji. Waktu masih mempermainkan mereka berdua, menguji kesetiaan dan cinta yang mereka miliki. Bahkan kematian turut serta memberi andilnya dalam. Mungkin memang bukan takdir mereka untuk bersama, bukan di masa sekarang, reinkarnasi? Entahlah, biarkan sang sutradara yang menentukan.
A/N : This story will not ending yet honey readers~ enjoy and RCL~


=TOP SECRET=

Coffee Corner sebuah hotel bintang lima
        “Fumi~ Kita bertemu lagi! Bukankah ini tandanya kita berjodoh?”kata Ryo begitu seorang waitress meletakkan secangkir kopi dan pancake di mejanya.
        “Silahkan pesanannya.”
        “Kenapa kau pura-pura tak mengenalku? Bukankah kita baru saja berkenalan kemarin?”
        “Maaf Tuan, saya sedang bekerja. Silahkan nikmati kopi Anda.”
        “Baiklah temui aku nanti setelah kau selesai bekerja. Bagaimana?”
        Gadis itu hanya tersenyum dan meninggalkan Ryo. Ada kesal yang melingkupi dadanya. Begitu sampai di dapur, gadis yang tadi di panggil Fumi kembali berbicara dengan rekannya lewat alat kecil di dekat telinganya.
        “Keadaan aman. Target masih dalam pengamatan. Tetap di pos kalian dan tunggu perintahku.”
        Seorang lelaki paruh baya yang menjadi targetnya sedang sibuk bicara dengan seseorang di telepon genggam. Wajahnya tampak serius. Tak lama ia memutuskan hubungan telepon itu dan beranjak pergi dari kursi yang ia duduki.
        “Target pergi. Yuto dan Ryutaro, kalian terus buntuti dia. Para mafia itu mungkin sudah berada di sekitar sini untuk mengintai dia juga. Perhatikan langkah kalian.”perintahnya lagi.
        Rutinitasnya kembali berubah, yang tadinya seorang waitress kini berganti menjadi pengunjung dengan tatanan berbeda. Ya, ia sedang menyamar. Gadis itu memang seorang agen. Kini ia menjalankan misi untuk menggagalkan transaksi perdagangan senjata gelap. Menurut informasi, transaksi itu akan dilakukan di hotel ini dalam waktu dekat. Mata tajamnya terus mengamati target yang duduk di balkon kamar hotel tepat di seberang kamar yang ia tempati –sebuah kesengajaan.
        “Kapten, istirahatlah. Aku akan mengawasi target, sejak kemarin kau tak tidur bukan?”ujar partner-nya menyerahkan secangkir teh hangat.
        “Kau saja. Aku akan berjaga. Terima kasih, Arioka.”jawabnya menyesap teh tawar itu pelan. Kedua mata jernihnya beralih menatap laptop di hadapannya, memerhatikan apa yang target kerjakan. Ya tepat di belakang target telah terpasang kamera tersembunyi. Selain itu, beberapa kamera lain juga telah dipasang di kamar target.
        “Kau ini benar-benar tak berubah. Sachi Fumi si Kepala Batu. Istirahatlah, aku akan mengawasinya.”kata Daiki lagi kali ini sedikit memaksa. Ia ikut sibuk mengawasi target dengan teropong berteknologi mutakhir di tangannya.
        “Daiki, kita sedang bertugas. Jangan panggil aku seperti itu! Aku tak mengantuk dan aku tak mau menyerahkan tanggung jawabku begitu saja. Meski kau lebih tua dariku, tapi di sini aku ketua tim. Kau tahu bagaimana berbahayanya ini.”jawab Fumi tegas tanpa melepaskan pandangannya dari layar laptop.
        “Ck, aku mengerti tapi paling tidak biarkan kita bersikap informal jika berdua. Kita sahabat sejak kecil, kau tak perlu se-formal itu padaku meski sedang bertugas. Kau tak ingat aku pernah mengatakan itu berulang kali?”
        Kini Fumi terdiam, ia menghembuskan nafas berat dan cepat. Kembali menyesap teh yang tinggal setengah dalam cangkirnya. Daiki memandangi Fumi. Ada sorot iba dalam pancaran mata cokelatnya. Ia ingat bagaimana mereka dididik untuk mengabdi pada negara bahkan sejak usia muda. Ya, sejak diambil dari panti asuhan, mereka tinggal di asrama khusus dengan anak-anak berkemampuan lebih lainnya.
        Tak ada lagi kata yang terucap dari bibir keduanya. Mereka sibuk mengawasi target dengan cara masing-masing.
---
        “Kenapa kemarin kau tak menemuiku? Aku mencarimu ke cafe tapi kata mereka kau sudah pulang. Bukankah aku bilang untuk menemuiku?”tanya Ryo seperti anak kecil merajuk pada ibunya agar dibelikan mainan.
        “Maaf Tuan, saya ada urusan dan sekarang saya sedang bekerja. Nikmati kopi anda.”jawab Fumi sopan tanpa emosi. Ia sudah terlatih untuk mengontrol emosinya –demi mengakali lie detector. Tak lucu kan jika agen  sepertinya membocorkan rahasia negara? Lebih baik mati daripada membuka mulut.
Ia membungkuk sejenak sebelum berlalu. Tapi tangan Ryo dengan cepat meraih pergelangan tangannya. Beruntung Fumi cepat mengendalikan refleknya, jika tidak, mungkin Ryo sudah tersungkur di lantai sekarang. Sebelah tangan Ryo yang bebas mengambil handphone Fumi yang berada di saku apron gadis itu. Dengan lincah jari jemarinya menari di atas layar touchscreen dan tak lama handphone di atas mejanya bergetar.
        “Dengan begini aku punya nomormu. Terima kasih. Selamat bekerja, Fumi~.”kata Ryo dengan wajah berbinar tanpa rasa bersalah.
“Maaf Tuan tapi Anda tidak bisa melakukan itu... maksudku...”
Target bergerak keluar hotel. Ia tak menuju ke Coffee Corner seperti biasa, tiba-tiba Yuto, salah satu anggota tim-nya melapor.
Kau dan Ryutaro ikuti dia. Tetap pada jarak aman jangan sampai mencolok, bisiknya kemudian. Yuto dan Ryutaro pun segera bergerak sesuai perintah.
Sachi Fumi! Kembali ke dapur!”seru seorang waiter yang tak lain adalah Daiki. Tak lama, ia dan Daiki langsung merubah penyamaran mereka dan keluar dari hotel untuk mengikuti target.
---
Keesokan harinya
Coffee Corner
Semua masih berjalan seperti biasa. Tak ada kejadian ataupun hal aneh. Sudah tiga hari ini mereka mengawasi target dan para mafia itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Fumi, Daiki, Yuto dan Ryutaro masih pada penyamaran mereka.
Lagi-lagi Ryo dan Fumi berhadapan. Mereka berbicara seperti sebelum-sebelumnya. Ryo dengan wajah berbinar karena excited dan Fumi dengan respon datarnya.
Target bersama seseorang di meja nomor tiga. Penampilan biasa, tak ada yang mencolok, tetap siaga, ujar Daiki dari balik kasir lewat peralatan canggih yang mereka gunakan.
Dengan profesional Fumi berjalan mendekati meja tiga, menyerahkan pesanan kedua orang itu.
Microphone set, stand by, bisik Fumi begitu melangkahkan kakinya menjauhi meja nomor tiga.
Ya, di cangkir kopi yang ia antar telah terpasang microphone berukuran sangat kecil yang tak akan mudah di sadari. Dari microphone itu mereka dapat mendengarkan perbincangan target dengan jelas. Ini tentang transaksi itu.
Mereka akan melaksanakan transaksi itu nanti sore di restaurant hotel, ruang VIP tiga, ujar Ryutaro yang berada di ruang kontrol. Ia-lah yang kini bertugas memonitor semua peralatan canggih yang digunakan.
Senyum simpul tercetak jelas di wajah Daiki dan agen lainnya tapi tidak pada wajah Fumi. Ia merasakan keganjilan. Tak mungkin mereka semudah ini untuk ditangkap, mengingat mafia-mafia itu begitu profesional dan lama menjadi buronan yang terkenal sulit untuk dilacak apalagi ditangkap.
Begitu selesai bicara, orang itu pergi meninggalkan target. Fumi segera mengutus Yuto untuk mengikuti orang tersebut dan mencari informasi lengkap mengenainya.
Tak lama ia mendapat kabar bahwa orang itu bersih. Ia hanya ‘penyampai pesan’ biasa –pekerjaan yang belum lama ini mulai berkembang, mereka bekerja untuk menyampaikan pesan tanpa harus mengetahui secara terperinci untuk dan dari siapa pesan itu ditujukan.
Ini semakin membuat Fumi curiga.
---
“Ini Kapten Sachi Fumi. Hubungkan aku dengan Kolonel Yabu Kota segera.”
“Baik.”
“Ada apa? Bagaimana perkembangan misi tim Alpha? Kudengar target dan pimpinan mafia itu akan melakukan transaksi sore ini.”
“Ya, karena itu aku menghubungi Anda, Kolonel. Bukankah ini ganjil? Pimpinan mafia itu sendiri yang turun tangan tapi kenapa mereka justru light? Bisakah Anda mengirim beberapa orang dan pasukan siaga?”
“Aku mengerti. Akan kukirim tim Gamma segera dan aku akan hubungi kantor kepolisian setempat untuk bersiaga jika sesuatu terjadi. Kau tinggal mengirimkan SOS ASAP.
“Terima kasih, Kolonel.”
Begitu selesai menghubungi atasannya Fumi segera berbalik hendak kembali ke kamarnya. Namun betapa terkejutnya ia saat mendapati Ryo tepat berada di belakangnya. Ryo menatapnya dengan tatapan mendelik curiga.
“Sejak kapan kau di sini?”tanya Fumi tanpa sempat mem-filter kekagetannya.
“Baru saja, apa kau tadi menelepon pacarmu?”tanya Ryo yang segera saja membuat Fumi bernapas lega.
“Bukan urusanmu.”
“Oh, berarti benar? Tapi sekalipun benar, itu tak kan cukup untuk menghentikanku.”
“Maksudmu?”
“You are mine... definitely mine.”kata Ryo dengan senyum menggembang. Ucapannya itu mengundang senyum sinis melengkung di bibir tipis Fumi.
Ryo menarik Fumi dari tempat mereka. Fumi yang tak mungkin menggunakan kekuatannya pada warga sipil, hanya mengikuti langkah Ryo. Mereka kini telah duduk berhadapan di sebuah taman tak jauh dari hotel.
”Kenapa kau bersikap seperti ini?”tanya Fumi masih dengan ekspresi datarnya. Mendengar itu, senyum Ryo mengembang. Ini pertama kalinya Fumi berbicara informal sejak mereka bertemu.
“Love at first sight, may be.”jawab Ryo singkat. Mata cokelat tua-nya masih memandangi Fumi lekat.
Lagi-lagi senyum sinis terukir di bibir Fumi tepat sebelum ia membalas ucapan Ryo, “Kau salah memilih orang. Dengan semua kekayaanmu dan wajah tampan itu. Bukankah kau bisa mendapat gadis yang jauh lebih baik daripada aku? Aku hanya seorang waitress.”
“Karena aku hanya butuh cukup. Dan kau cukup untukku. Aku rela melepas segalanya jika perlu. Kita akan hidup berdua bahagia selamanya. Hanya kau dan aku. Kau bisa percaya padaku, Fumi. Aku berjanji...”
Mendengar ucapan Ryo, mata Fumi membulat sejenak. ‘Cara bicara, nada dan kata-kata itu... Apa kau Ryo-ku?’  batin Fumi namun segera ia tepis.
“Sudahlah. Aku harus kembali bekerja atau aku akan dipecat.”kata Fumi kemudian berjalan menjauhi Ryo. Seketika Ryo terpaku saat melihat Fumi mengikat rambutnya.
“Ikat rambut itu... Kau benar-benar Fumi-ku! Tunggulah Fumi, sebentar saja. Kita akan bertemu lagi dan aku akan membuatmu bangga padaku. Beri aku waktu, aku hanya tak ingin kita bertemu dalam keadaan seperti ini. Mengertilah Fumi. Kumohon bersabarlah dan percaya padaku seperti Fumi-ku yang dulu.”gumam Ryo. Wajahnya seketika berubah sendu. Ingatan masa lalu terputar begitu saja di hadapannya.
---
Orphanage, May 9 2000
“Ryo, selamat ulang tahun...”kata seorang gadis kecil begitu berada di dekat Ryo.
“Terima kasih, kau juga Fumi ~.”
Mereka kemudian bertukar kado. Ya, keduanya memang berulang tahun pada tanggal yang sama. Bukan, ini bukan tanggal lahir asli mereka –mungkin salah satu di antara mereka. Mereka mendapat tanggal ini sebagai tanggal lahir pada surat keterangan, karena mereka berdua sama-sama ditinggalkan di panti ini pada tanggal 9 Mei 1993 –meski pada jam berbeda.
“Ryo! Fumi! Ayo masuk, ada yang ingin berkenalan dengan kalian!”panggil seorang pria bernama Chinen Yuri yang merupakan sukarelawan panti itu.
Mereka berdua berlari-lari kecil memasuki gedung panti yang sederhana. Di salah satu tangan mereka tergenggam kado sedang sebelah tangan yang lain saling menggenggam.
“Ryo kenalkan, ini Tuan Takaki. Dia ingin kau menjadi anaknya. Kau mau kan?”kata Chinen begitu mereka sampai di ruang tamu panti.
“Tapi... Fumi...”kata Ryo ragu. Mereka masih saling bergandeng tangan dan menatap satu sama lain.
“Oh, Fumi akan ikut dengan Tuan Inoo. Kalian akan sama-sama diadopsi hari ini. Bukankah ini kado yang indah untuk ulang tahun kalian?”ujar Keito yang juga merupakan sukarelawan panti itu tiba-tiba. Ia baru saja memasuki ruang tamu panti dengan beberapa dokumen adopsi tangannya.
“Tapi kenapa kami tak diadopsi satu keluarga yang sama?”tanya gadis kecil itu, mata cokelat caramel-nya berkaca-kaca.
“Karena orang tua baru kalian hanya ingin mengangkat seorang anak.”kata Keito tenang. Ia tersenyum ramah pada kedua calon orang tua angkat yang akan mengadopsi mereka berdua.
“Kalian ambil barang masing-masing. Mereka akan menjadi keluarga yang baik. Nanti kalau kalian sudah dewasa, kalian bisa bertemu lagi. Ingat permainan kalian tentang pengantin?”kata Chinen kemudian.
Ryo dan Fumi saling pandang lalu menjadi salah tingkah. Wajah mereka memerah, padam. Ragu-ragu mereka berdua berjalan menuju kamar, mengambil barang yang tak seberapa.
Fumi, jangan menangis. Saat dewasa nanti, kita akan bertemu lagi. Kita akan hidup berdua bahagia selamanya. Hanya kau dan aku. Kau bisa percaya padaku, Fumi. Aku berjanji...”kata Ryo menyeka airmata yang keluar dari ujung mata Fumi. Mereka kemudian menautkan jari kelingking dan berucap janji.
---
Di suatu tempat, sebuah pembicaraan lewat telepon.
‘Tuan, pertemuan sudah diatur. Semua sesuai perintah Anda. Kami akan bersiaga jika sesuatu terjadi. Ini pertemuan pertama Anda sebagai pimpinan.’
‘Ya, aku mengerti. Tenang saja, ini akan berjalan dengan lancar.’
---
Sore harinya
Fumi dan tim-nya bersiaga dengan penyamaran mereka. Target telah memasuki ruang VIP yang akan digunakan untuk transaksi.
“Oii, Fumi, kau bekerja di restaurant ini juga?”tanya Ryo yang tiba-tiba memasuki restaurant.
“Selamat datang Tuan, sudah memesan tempat?”tanya Fumi ramah, ada semburat kaget yang tak dapat ia sembunyikan.
“Euhm, VIP satu. Aku akan makan malam dengan ayahku. Kau belum menjawab pertanyaanku! Oh, kau bahkan tak pernah menjawab panggilan telepon ataupun membalas pesanku. Apa kau membenciku?”
“Silahkan lewat sini Tuan.”kata Fumi menunjukkan ruangan VIP satu.
Begitu mereka berada di dalam ruangan, Ryo sengaja menahan Fumi.
“Jawab aku! Kenapa kau ada di sini? Kenapa kau tak pernah menjawab teleponku? Pesan singkatku?!”
“Maaf Tuan, saya bekerja part-time di sini. Saya tak mengenal Anda karena itu saya tak menjawab telepon maupun membalas pesan singkat Anda. Maaf, saya harus kembali bekerja. Ini hari pertama saya bekerja, saya tak boleh membuat kesalahan atau saya akan dipecat.”jawab Fumi sopan dan segera keluar ruangan tepat setelah seorang pria paruh baya memasuki ruang itu.
“Ayah, kau sudah datang. Duduklah.”kata Ryo menunjuk kursi di seberangnya meski tatapannya masih lekat pada punggung Fumi hingga punggung itu menghilang di balik pintu.
Fumi berjalan keluar sembari terus mendengarkan laporan anggota tim-nya. Belum ada pergerakan, target keluar ruangan, agen Ryutaro terus mengikutinya, kata Yuto yang terus memonitor ruang VIP tempat di mana target akan menemui pimpinan mafia. Di sana telah dipasang beberapa kamera tersembunyi.
---
Di tempat lain
‘Tuan, kami sudah melaksanakan perintah. Orang itu mematuhi rencana kita.’
‘Bagus, terus pantau dia. Dan bunuh begitu kita mendapatkan barangnya.’
‘Baik, beberapa sniper sudah berjaga siap menunggu perintah anda. Tampaknya rencana ini akan berjalan lancar, agen-agen bodoh itu tak kan menyadarinya.’
‘Ya, mereka terlalu mencolok. Teruskan, ini tak kan lama.’
---
Masih belum, mafia itu belum menampakkan diri. Target baru saja kembali ke ruangan, kata Ryutaro memberi laporan. Fumi yang mendengar itu semakin gelisah. ‘Kenapa tak segera muncul? Di mana mafia-mafia itu bersembunyi?’ batinnya.
PYAAR...
Tiba-tiba suara kaca pecah mengagetkan semua orang yang ada di restaurant hotel itu.
“Sial! Kita kecolongan. Target tertembak Sniper! Tim Gamma, segera cek gedung-gedung di sekitar hotel. Evakuasi pengunjung restaurant ke tempat yang aman.” seru Fumi memberi perintah.
PYAAR...
Lagi-lagi terdengar suara kaca pecah. Satu dari agen yang bertugas tertembak. Dengan cepat kaca-kaca lain pecah dan semakin banyak korban berjatuhan, baik agen maupun pengunjung restaurant yang notabene adalah warga sipil.
“Arioka Daiki. Agen Pemerintah.”teriak Daiki menunjukkan lencana-nya. “Ikuti aku. Merunduk dibalik meja! Segera keluar dari gedung. Hotel ini di kelilingi orang-orang bersenjata!”
DORR
BUUK
Seorang sniper tertembak dan jatuh dari atap gedung di seberang hotel.
“CEPAT!! SEMUANYA TETAP TENANG! MERUNDUK!”teriak Daiki lagi. Semua orang segera mengikutinya.
Teriakan menyelimuti restaurant. Semua orang panik. Beberapa agen dengan senjata di tangan mereka berlindung di balik meja dan membalas serangan itu. Adu tembak pun tak dapat terelakkan.
“FUMI!!!”teriak Daiki saat ia melihat sinar merah tepat di kening Fumi dan PYAAR... peluru timah itu melesat cepat memecahkan kaca, meluncur mengikuti jalur sinar merah itu. Fumi masih terpaku lalu tubuhnya terjatuh.
---
‘Semalam terjadi serangan mafia di Hotel The Xx. Dilaporkan seorang warga sipil tewas, beberapa orang luka-luka dan sejumlah agen serta sniper dari pihak mafia tewas dalam kejadian ini. Mafia-mafia tersebut adalah buronan nomor satu pemerintah. Mereka telah dipantau selama beberapa hari ini dan diketahui melakukan transaksi secara illegal. Transaksi ini adalah mengenai jual beli senjata mutakhir yang dikembangkan aliansi perusahan senjata terkemuka sore kemarin. Pimpinan mafia itu sendiri berhasil meloloskan diri....’
TV yang menyiarkan berita tersebut segera kehilangan nyawanya begitu remote tak berdosa sukses melubangi layarnya.
“Katakan kalau berita itu bohong! Yaotome Hikaru!! Bukankah kau ada bersamanya saat itu? Bagaimana bisa kau membiarkan ini terjadi?! Bukankah sudah sesuai rencana? Kita mendapatkan cetak birunya bukan?”
“Maafkan saya Tuan Takaki.”
“Apa?! Bicara yang jelas!!”amarah Takaki tak dapat lagi di bendung.
“Rencana memang berjalan lancar dan kita berhasil mendapatkan cetak birunya. Tapi... Tuan Muda, meninggal.”
---
Fumi terjatuh ke lantai, badannya di timpa seseorang dengan darah mengalir deras dari perutnya yang terkena tembakan.
Syukurlah kau tak apa-apa.”kata Ryo begitu berada di pelukan Fumi. Ia menatap Fumi lekat dengan senyum mengembang. Darah mengalir dari mulutnya. Dengan sisa kekuatannya ia mengusap airmata Fumi. Menunjukkan pada Fumi gelang pemberian Fumi saat perpisahan mereka dulu.
“Jangan menangis. Aku senang bisa bertemu denganmu lagi. Maaf aku belum bisa menepati janjiku. Aku menunggumu Fumi, kita akan hidup berdua bahagia selamanya. Hanya kau dan aku. Jaga dirimu baik-baik.”ujarnya pelan.
“Kau diam! Berhenti bicara! Ambulance akan segera datang. Bertahanlah. Jangan tinggalkan aku lagi Ryo. Kumohon, kau harus hidup. Tepati janjimu.”
Ryo menggelengkan kepalanya. Bibirnya bergerak tanpa suara, selamat ulang tahun... aku mencintaimu... katanya sembari menyerahkan sebuah kunci pada Fumi.
“Aku mencintaimu Ryo jadi kau harus bertahan. Kita akan hidup berdua bahagia selamanya bukan? Maafkan aku, seharusnya aku menyadari keberadaanmu lebih awal. Dan seharusnya aku yang melindungimu. Apa guna senjata yang kupegang? Aku seorang agen tapi aku tak bisa menjalankan misiku dengan baik. Bahkan kau malah menjadi seperti ini... Ryo kumohon, demi aku...”
Ryo tak dapat lagi berkata-kata. Tenaganya semakin habis karena darah terus mengalir dari luka tembak itu. Hanya airmata yang mewakili ucapannya. Senyum tipis melengkung di bibirnya saat ia menggeleng perlahan. Kemudian Ryo menutup matanya.
“Ryo... Bangun! Buka matamu! Bagaimana bisa kau menemuiku dengan keadaan seperti ini? Kau sudah berjanji padaku. Kita akan bertemu lalu hidup berdua selamanya. Kenapa kau justru pergi di saat kita barusaja bertemu lagi setelah tiga belas tahun?! BANGUN RYO!!!”ujar Fumi mengguncang-guncang sosok dalam dekapannya. Isaknya tak terbendung.
---
Tokyo, May 9 2013
In Memoriam
Ryo
1993 – 2013
Fumi melangkahkan kakinya lemas menjauhi nisan itu. Tak lama ia telah berjalan menuju kamar hotel The Xx, kamar nomor 313. Tangannya gemetar saat membuka pintu dengan kunci di tangannya –kunci pemberian Ryo. Matanya masih sembab setelah menangis di upacara pemakaman Ryo. Ditelusurinya kamar itu. Mata cokelat caramel-nya tertuju pada sebuah kotak di atas ranjang.
Perlahan dibukanya kotak itu. Seketika airmata kembali mengalir di kedua pipinya. Di dalam kotak itu terdapat berbagai macam barang miliknya dan Ryo. Seingatnya barang-barang ini mereka kubur di halaman panti, sehari sebelum mereka berpisah. Diambilnya sebuah amplop dari sana, amplop yang terlihat baru dibanding benda lain dalam kotak itu.
Dear Fumi,
Kau ingat aku? Ryo-mu. Ryo yang selalu kau lindungi dari kejahilan anak-anak panti. Ryo yang senantiasa mengekori langkahmu. Ryo yang berjanji untuk menjadi pendampingmu di depan altar gereja panti dulu –saat permainan pengantin kita.
Aku senang bisa melihatmu meski dari jauh –juga merasa sedikit terluka karena sikap dinginmu. Apa kau sudah melupakanku? Janji-janji kita dulu? Fumi, aku tak pernah sekalipun melupakan kenangan kita...
Maaf, aku mengambil timecapsule kita terlebih dahulu tanpa izin-mu. Kau tahu? Benda-benda dalam kotak ini selalu memberiku semangat tersendiri. Aku jadi teringat ucapan-ucapanmu dulu; Ryo harus kuat! Tak boleh cengeng! Kau juga bilang kalau aku tak boleh berbohong dan berbuat jahat, juga harus menjadi diriku sendiri.
Tiga belas tahun telah berlalu, tepat pada hari ini kita terpisah selama itu.
Kau sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan kuat –seperti yang telah kukira. Umurmu dua-puluh-tahun? Oh, kita bisa membuat permainan pengantin kita menjadi nyata!!! Selamat ulang tahun, Fumi...
Aku mencintaimu...
Ryo
p.s : setelah kau membaca ini, temui aku di gereja St. Valent J
Terburu-buru Fumi memasukkan surat itu ke dalam kotak dan menutup kotak itu cepat. Ia berlari sekencang yang ia bisa menuju gereja, dua blok dari hotel ini. Gereja gothic itu berada dalam satu kompleks dengan pemakaman St. Valent dimana upacara pemakaman Ryo barusaja berakhir.
Terengah-engah Fumi memasuki gereja. Ia tahu, mungkin ia sudah gila tapi ia tetap berjalan mendekati altar. Ada sesuatu yang menariknya ke sana.
“Nona,...”kata seseorang yang sejak tadi duduk di bangku depan altar.
“Anda nona Fumi? Sachi Fumi?”kata orang itu lagi. Tapi Fumi masih terdiam, ia menatap orang itu dengan pandangan kosong.
“Tuan Muda kemarin mengutus saya untuk menyerahkan ini pada Anda”
Fumi menerima sebuah kotak yang diulurkan padanya. Dibukanya kotak itu pelan, tak yakin dengan apa yang ia lakukan. Ditemukannya sepucuk surat dan kotak lain disana.
Dear Fumi,
Hey,... apa kau mengira aku akan menikahimu hari ini juga di gereja ini begitu kau membaca suratku? Maaf tapi tebakanmu salah!
Kau pasti kaget karena tak mendapatiku di gereja. Ku mohon jangan salah sangka. Aku hanya masih belum siap untuk menemuimu –sebagai Ryo bukan sebagai orang yang selama ini kau panggil ‘Tuan’.
Fumi,... bukannya aku ingin mempermainkanmu, percayalah, bukan!
Mungkin kedengarannya konyol dan kau mungkin akan segera memukul, memaki atau apapun yang bisa kau lakukan jika kita bertemu –suatu saat nanti.
Tapi percayalah padaku, Aku akan menemuimu Fumi, lima tahun lagi di gereja panti kita –bukan sekarang, bukan di gereja ini. Aku ingin bersumpah di depan altar yang sama seperti saat kita kecil dulu.
Tunggulah sebentar lagi Fumi, kumohon percayalah, aku akan menepati janjiku –semua.
Sekali lagi maafkan aku dan kumohon percayalah padaku.
Aku mencintaimu dengan segala hal yang kita miliki.
Ryo
---
WRITER DESIRE : Hows? Wanna read squel? Hmm,... help me to make it come true... I know I am crazy and indisputable badgirl,  but yeah just enjoy ^^ thanks for RCL and read my other story :3
Happy birthday my one and only Ichigo prince. Your; smile, face, voice –your presence is my force. Thank you for coming to my world. I love you...

Takahata Misaki's 19th Birthday
broccolli
an_anyrn
Otanjoubi omodetou...
Takahata Misaki
atashi no future hubby
WYATB.
May we can see each other as soon as possible.
Always ♥ you ^^
Kochira wa my first gift for you...

Happy Birthday ♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥Collapse )

Under The Summer's Evening Sky
broccolli
an_anyrn

Title     : Under The Summer's Evening Sky
Author : an_anyrn
Pairing : TakaYoshi >>> Takahata Misaki x Yoshikumi Ai (OC)
Genre  : Hurt, Romance
Rating  : G
Type    : Ficlet
Summary : When Ai at her culmination point. She has nothing to do, except break up. Is Misaki going to handle it?
summer




The Wind still spinning...Collapse )


Coffee
broccolli
an_anyrn
Title     : Coffee
Author : an_anyrn
Pairing : TakaYoshi >>> Takahata Misaki x Yoshikumi Ai (OC)
Genre  : Fluff
Rating  : PG
Type    : Drable
Summary : Misaki give Ai a caffeine.

Warning! Rushed and unbetaed.



A cup of coffee please...Collapse )

Why Must Him?
broccolli
an_anyrn


Of all guys in the world that I've ever seen, why I must fallen to him? Why not my friends that I can strive? Why not my neighbor that I can get close? Why not other guys whose I know their existence. Why must him whose unreachable and so absurd?

Why he can make my heart doki-doki?  Force this lip to make a beautiful arc when I remember your face? Make these tears falling when I miss you.

Why over all guys must him?

Maybe I’m too stupid.Or maybe I’m too innocent?

Is this the true love that flowing from inside my heart? Or this is a love that blinded my heart’s eyes?

Can I reach him with all of my lack?

-keep asking myself till these eyes closed-


Writer's Block: Karaoke Time
broccolli
an_anyrn
Name five songs to which you know all the lyrics. (Better yet, sing them.)
Star Time - Hey!Say!JUMP
Still - ARASHI
Gift of A Friend - Demi Lovato
My Love - Westlife
Lost and Found - Alyson Stoner

Yokubou
broccolli
an_anyrn
I want to touch other people heart with my writing.

A Promise
broccolli
an_anyrn
My neighbor said that, I must tell the person who I love about my feeling.
So I decide, I'll say it everyday until you love me back or until I love someone else. It's a promise, Kay?

I hope my word will touch your heart...

Takahata Misaki,

I have died everyday waiting for you, darling don't be afraid I have loved you, for a thousand years, I'll love you for a thousand more...

####1 Last Tears
broccolli
an_anyrn

Title                 :  ####1 Last Tears

Author             : Yoshikumi Ai

Genre              : Hurt

Rating             : G

Type                : Drabble

Disclaimer       : I just borrow Yuto forever

Cast                 : Yoshikumi Ai X Nakajima Yuto




Read more...Collapse )

?

Log in